|
Aku mengengam erat uang yang ada di tanganku, Rp. 500.000. Ini bukan uang yang sedikit, setengah juta, bayangkan setengah juta. Aku mendengar juta-juta saja merinding, apalagi ini sudah ada di tanganku. Aku memang tidak pernah memengang uang yang banyak, dengan penghasilanku sebagai pemulung, tidak pernah aku memengang uang sebanyak itu. Penghasilanku paling banyak sehari Rp. 5.000, belum lagi di pakai buat makan, sewa gerobak sampah ke Pak Bendot yang audzubillah pelitnya dan aku juga harus menyisakan sebagian uangku untuk kontrak rumah tiap bulannya. Aku terus memengang uang itu, khawatir ada cicak yang ngintip, lalu merampas uangku, enak aja, aku yang dapat, cicak dengan semena-mena memberitahu temanya untuk mengambil uangku. Aku bertambah erat lagi memengang uang yang begitu banyak. Tanganku mulai berkeringat. Uang Rp. 500.000, aduh…banyak sekali, aku bisa membeli semua yang aku inginkan, bajukoko, kopiah, sarung, Oh iya aku mau membeli sepatu baru, dan baju batik kayak punya Wa Haji biar kalau aku di undang kenduren di rumah tetangga dengan bangga aku memakainya, aku bisa terlihat tampan, walaupun aku pemulung aku punya badan yang bagus, kulit yang putih walau agak lusuh, maklum ngak pernah di lulur, seperti lelaki metrosexsual di Jakarta, wajahku juga kata Emak di kampung tampan kayak bintang film, sapa yach…aduh…itu tuh yang main di sinetron kehormatan, emang emak ini ada-ada saja….heheheheheh ketika terdengar bunyi jangkrik mengerik, aku semakin takut, jangan –jangan dia mengabarkan kepada temanya kalau aku punya uang yang banyak. Aku harus menyimpan uang ini di tempat rahasia, tetapi di mana, di bawah kasur????, kasurku sudah teramat lapuk di kanan-kiri sudah terlihat bolong-bolong, gepeng, tipis, dan bau apek, maklum aku tidak pernah membawanya untuk berjemur menikmati hangatnya mentari pagi. Kletak!, Keringat dingin semakin mengucur deras, aku semakin ketakutan, kletak! , bunyi batu menimpa jendelaku, terulang kembali, aduh, jangan-jangan si jangkrik brengsek mengabarkan ke preman kampung untuk mengambil uangku. Keringat dingin jatuh satu-satu kelantai dingin kemudian menggelinding kearah pintu yang sama rapuhnya dengan dinding rumahku. Aku mengintip dari lubang-lubang papan yang aku tambal dengan kertas koran, jangan-jangan Bang Fir’aun tahu kalau aku punya uang yang banyak, kemudian dia memaksa aku untuk menyerahkan uangku, dengan sebilah belati di tanganya dan mata melati mengarah ke dadaku… , Wadau, seekor cicak jatuh di kepalaku, dia di kejar cicak jantan, karena cicak betina menolak cinta cicak jantan, yang akhirnya terpeleset dan jatuh menimpa kepalaku, Hem, memang kadang laki-laki selalu saja ingin terlihat super, berbagai cara akan dia lakukan untuk mendapatkan hajatnya. Di luar terlihat sepi, gelap, di sudut yang di terangi lampu terlihat seekor kucing mengendap-ngendap mengincar mangsanya, Oh…,dasar, kucing tidak bisa saja lihat orang lagi senang mendapat uang banyak Aku kembali ketempatku semula sebuah tikar lusuh yang aku sering gunakan untuk menemui Tuhanku, uangku masih aku genggam, bertambah erat. Hm, kalau saja tadi ngak ketemu ibu muda yang kecopetan dompetnya, mungkin aku tidak setakut ini, aku bingung harus di taro dimana uang ini. Andai saja aku tadi tidak berada di situ dan menerjang penjahat jelek itu mungkin aku tidak akan seresah ini, andai saja ibu itu hanya mengucapkan terima kasih, mungkin aku dapat tertidur lelap malam ini. Kadang dalam khayalku aku ingin punya uang yang banyak, aku bisa beli ini, beli itu, aku bisa membeli apa saja yang aku inginkan, aku bisa berlibur ke lombok, aku bisa surving ke dasar laut, melihat trumbu karang, menikmati senja merah di ujung pantai. Tidur di villa, dan satu lagi aku pengen ke Bali. Katanya tetangga sebelah yang punya televisi kemarin ada Bom yang diledakan, aku pengen lihat orang yang melakukanya, apa dia tidak merasa kasihan melihat ratap pilu keluarga yang di tinggalkanya??? Sekarang, baru saja aku mendapatkan uang Rp.500.000 aku gelisah yang luar biasa, aku menjadi ketakutan, aku seperti terbelenggu dengan apa yang aku dapatkan. Padahal aku mendapatkanya dengan cara hallal, bukan hasil korupsi bukan hasil nyatut uang rakyat, bukan pula aku todongkan pisau ke Istri pejabat yang menghabiskan uangnya buat shoping. Aku memandang langit-langit rumahku, aku ingin dia memberi inspirasi di mana aku harus meletakan uangku, aku tak ingin kehilangan uang yang begitu banyak. Aku harus bilang kepada tikus penjaga rumahku, agar dia tidak memakannya. Aku berjalan keteras, disana ada pepohonan rindang, uangku aku letakan di dalam sarung lusuh yang aku pakai, aku ingin menguburnya, dengan begitu orang tidak akan tahu kalau aku punya uang banyak. Aku masukan uangku kedalam kantong plastik, agar tidak dimakan rayap Uangku terkubur di dalam perut bumi bersama dengan mahluk bumi lainnya, Mungkin suatu saat pasti aku ambil, kalau aku memerlukanya. Aku jadi berpikir, mending aku seperti ini saja, tidak bingung memikirkan uang-uangku , tidak harus ketakutan dengan perasaanku sendiri, yang penting aku harus bersukur atas apa yang aku punya. Aku tertidur dalam lelapku, menyongsong pagi dengan gembira, membawa hartaku yang selalu setia menemaniku, gerobak pak bendot……
|
| dee July 5, 2006 12:08 PM PDT terimakasih yach, udah ngunjungi blognya dee... | ||
| ghufron January 2, 2006 04:29 PM PST mbak deee,... salam kenal ya.... tulisan2 mbak bagus dech | ||
| Leave a Comment: |