Er. Nama yang sangat singkat, sesingkat hidupnya di alam fana. Tidak ada pesan, tidak jua kesan, kau pergi dalam kedamaian.
Kaku jasadmu, terbujur di dalam tangisan kepedihan keluarga. Melukai orang –orang terkasih yang kau tinggal pergi.
Kenapa begitu cepat tiada dari setiap hati mereka mengungkap tanya.
“Er, tidak sakit Ma”
“Hanya, Er lelah”
“Er, ingin beristirahat”
Lirih Er ucapkan kala satu-satu rambutnya rontok diantara hembusan napasnya, wajah pucat selalu menabur senyum, tak pernah sedikitpun keluh kesah terucap dari bibir kelu.
Tubuh tegapnya tak terlihat lagi, hanya seonggok jasad yang tergeletak tak berdaya, selang kehidupan memenuhi setiap inci tubuhnya.
Kanker paru-paru telah mengrogoti tubuhnya.
Mendung pagi turut merasakan kedukaan, Er melepaskan keletihan dalam hidupnya, seulas senyum menghiasi sudut bibirnya.
Kereta keabadian telah di usung menuju keperaduan, perlahan di turunkan, pelan, pelan, pelan. Kau menempati rumahmu yang baru Er, ruang sempit di dalamnya, tak mampu seorang pun menemanimu, tak bisa untu berdua, apalagi bertiga.
Ratapan pilu tak kau hiraukan , tangis kepedihan kau pun acuhkan. Kau hanya tersenyum seraya mengucap salam perpisahan. Hidup dalam keabadian bukanlah pilihan, karena itu adalah tahapan, kau akan mengalaminya, jadi jangan sesali aku pergi.